Tetap Setia dalam Ketakutan

Matius 27: 59-61
2 July 2020

“Heroes and cowards feel exactly the same fear. Heroes just react to fear differently”, yang berarti pahlawan dan pengecut merasakan rasa takut yang persis sama. Hanya saja pahlawan bereaksi secara berbeda terhadap rasa takut tersebut. Mungkin hal ini yang dirasakan oleh Yesus saat ia dijatuhi hukuman salib, sedangkan Ia tidak memiliki salah apapun. Ia justru mengajarkan banyak pengajaran kepada banyak orang. Yesus adalah manusia biasa dan wajar apabila Yesus memiliki perasaan takut tersebut. Akan tetapi, respon Yesus berbeda untuk mengalahkan rasa takut tersebut. Besar percaya-Nya kepada Allah Bapa membuat Ia merasa tidak sendirian. Perasaan takut Yesus juga ternyata sama seperti yang dirasakan oleh Yusuf dari Arimatea. Tidak hanya merasa takut, akan tetapi ia juga merasa sedih karena Sang Mesias yang dinantikannya sudah tidak ada lagi.

Yusuf dari Arimatea bukanlah salah satu dari keduabelas murid Yesus. Dia adalah Yusuf, seorang yang kaya dari Arimatea (27:57). Menurut catatan Markus, Yusuf merupakan anggota Majelis Besar Sanhedrin Yahudi. Ia termasuk orang terkemuka di kalangan Yahudi (Mrk. 15:43). Namun, ia tidak seperti para anggota Sanhedrin lainnya yang membenci Yesus. Yusuf merasa takut ketika ia memutuskan untuk menguburkan Yesus, bukan hal menguburkan Yesus yang membuatnya takut, namun untuk meminta mayat Yesus kepada Pilatus lah yang membuatnya menjadi takut. Dalam tradisi Romawi, orang yang sudah mati disalibkan akan dibiarkan saja pada kayu salib, sampai membusuk atau di makan burung/binatang buas. Tetapi orang Yahudi mempunyai peraturan dalam Taurat mereka yaitu dalam Ul 21:22-23 yang mengharuskan untuk menguburkan mayat pada hari itu juga. Jadi, yang dilakukan oleh Yusuf dari Arimatea ini adalah suatu ketaatan terhadap firman Tuhan. Ketakutan Yusuf ternyata di respons baik oleh Pilatus, ia mengijinkan Yusuf mengambil mayat Yesus untuk dikuburkan.

Yusuf yang merupakan seorang kaya dan berkedudukan tinggi, ia mau mengorbankan uangnya untuk membeli kain lenan supaya tubuh Yesus dibaluti kain sebelum dikuburkan, ia juga melakukan pekerjaan yang rendah dan najis yaitu menurunkan mayat dan mengapani, memberi rempah-rempah dan menguburkan-Nya (27:59-60). Ia melakukan semua hal tersebut demi menghormati dan memuliakan Yesus. Proses penguburan itu disaksikan oleh Maria Magdalena dan Maria lainnya (27:61). Kematian Yesus tidak menghalangi Yusuf dari Arimatea untuk memberikan yang terbaik bagi guru-Nya, sekalipun harapan Yusuf akan kedatangan Mesias dan Kerajaan Allah mungkin pupus dengan kematian Yesus. Akan tetapi kesetiaannya kepada Yesus tidak berubah.

Perasaaan takut kita kepada suatu hal seringkali membuat kita lupa bahwa ada Allah yang beserta kita. Tuhan Yesus berhasil mengalahkan ketakutan-Nya karena Ia percaya Allah beserta-Nya. Yusuf dari Arimatea pun berhasil mengalahkan ketakutannya karena kesetiaannya kepada Tuhan Yesus dan ingin tetap memberikan yang terbaik kepada-Nya. Bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah berhasil mengalahkan ketakutan kita? Marilah kita bersama-sama menyadari bahwa apapun yang terjadi saat ini, perasaan takut dalam hal apapun, ingatlah bahwa Allah telah memberikan anak-Nya yang tunggal untuk kita. Itu berarti, ada keselamatan yang diberikan Allah kepada kita. Hiduplah dengan komitmen kepada Tuhan Yesus, walau situasi hidup yang kita alami tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Hendaklah kita tetap setia kepada-Nya dan menaati-Nya. (esi)