Kuat Dalam Ancaman (25 Okt 2021)

Ya Allah, janganlah Engkau bungkam, janganlah berdiam diri dan janganlah berpangku tangan, ya Allah! Sebab sesungguhnya musuhmusuh-Mu ribut, orang-orang yang membenci Engkau meninggikan kepala. Mazmur 83: 1-2
25 October 2021

Ya Allah, janganlah Engkau bungkam, janganlah berdiam diri dan janganlah berpangku tangan, ya Allah! Sebab sesungguhnya musuhmusuh-Mu ribut, orang-orang yang membenci Engkau meninggikan kepala. Mazmur 83: 1-2

Lepaskanlah kami dari pada yang jahat. Matius 6: 13

Saat kita mengalami persoalan yang tidak sanggup kita tanggung sendiri, tentu kita akan datang atau mengutarakan beban kita kepada orang yang kita percayai, bukan? Bisa jadi itu orangtua, pasangan, sahabat, atau mungkin juga kepada Pendeta atau pelayan Tuhan. Tetapi, bagaimana perasaan anda, saat yang kita harapkan akan memberi solusi, memberi penguatan, malah diam dan bungkam, atau terlihat acuh dan tidak simpati pada persoalan kita? Tentu perasaan kecewa akan muncul, sebab responnya tidak seperti yang kita mau dan kita harapkan.

Nyanyian Asaf dalam Mazmur 83, merupakan sebuah gambaran penyerahan diri kepada Allah. Ia tidak tahu bagaimana menghadapi musuh yang mengancamnya, juga Israel. Bangsa-bangsa seolah-olah mengitari mereka dengan pedang, menyerang dan ingin memusnahkan umat Tuhan. Tuhan, janganlah bungkam, janganlah berpangku tangan (ay.2) menggambarkan pengharapan yang sungguh dalam seruannya. Dalam kepanikan dan kecemasan, Asaf ingin Allah memberi jawab atas permohonannya, juga mengabulkan doanya dengan menunjukkan kuasa-Nya, serta bertindak menghalau musuh yang menyombongkan dirinya. Ia menyadari ketidakmampuannya dan ketidakberdayaan umat Tuhan. Tidak akan mungkin dapat menang atas musuh. Hanya Allah Israel yang Maha Besar, Tuhan Sang Pelindung umat-Nya sajalah yang dapat mengatasi masalah ini.

Ketika Yesus mengajar murid-murid-Nya berdoa, Ia menyadari bahwa mereka tidak akan mampu melawan kuasa si jahat, jikalau tanpa kuasa Allah. Tidak akan ada yang mampu melepaskan diri, tanpa pertolongan Tuhan. Sehingga, dalam doa yang sederhana, ada sebuah pengajaran, bahwa manusia lemah meghadapi kuasa jahat. Dari situlah, Yesus mengajarkan kepada murid-Nya, arti penyerahan diri, kepasrahan hati pada kedaulatan dan kuasa Tuhan, atas semua kuasa-kuasa dunia yang jahat (Mat. 6:13). Sederhananya, Yesus mau kita menyampaikan ketidakberdayaan kita, dan menyerah pada satu-satunya kekuatan, yaitu kuasa-Nya. ‘Tuhan, tolonglah aku, aku tidak berdaya, aku tidak sanggup”. Bahasa berserah diri inilah yang diajarkan Yesus dalam Doa Bapa Kami, sebab Ia tahu, kita tidak mampu, kita rapuh, kita lemah. Tetapi dengan mengandalkan kekuatan-Nya, tidak ada ancaman yang akan membuat kita patah, justru akan semakin merekah, dan tetap kuat sebab Allah menopang. Kunci kekuatan menghapati ancaman, adalah pada kuasa-Nya. (TW)

Bacaan Alkitab: Roma 12: 17–21; Lukas 13: 22–30

Doa: Kuberserah kepada-Mu, ya Allah, atas setiap persoalan yang kujalani saat ini, kupercaya, Engkau bertindak dan menopangku. Amin