Kesederhanaan Adalah Kekayaan (30 Jan 2022)

Kami tidak akan berkata lagi kepada patung-patung buatan kami sendiri bahwa mereka Allah kami. Ya TUHAN, Engkau mengasihani orang-orang yang tidak mempunyai siapa pun yang dapat mereka andalkan. Hosea 14: 4 (BIS)
30 January 2022

Kami tidak akan berkata lagi kepada patung-patung buatan kami sendiri bahwa mereka Allah kami. Ya TUHAN, Engkau mengasihani orang-orang yang tidak mempunyai siapa pun yang dapat mereka andalkan. Hosea 14: 4 (BIS)

Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya? Markus 8: 36

Pramoedya Ananta Toer, seorang sastrawan Indonesia, mengatakan “Jarang orang mau mengakui, kesederhanaan adalah kekayaan yang terbesar di dunia ini: suatu karunia alam. Dan yang terpenting di atas segala-galanya ialah keberaniannya. Kesederhanaan adalah kejujuran, dan keberanian adalah ketulusan”. Berbicara mengenai kesederhanaan, siapasih di antara kita yang mau hidup sederhana? Ketika masih banyak orang tua yang melihat kesuksesan seorang anak hanya dari apa yang sudah mereka punya. Ketika semakin banyak orang-orang yang memamerkan barang-barang mewah milik kepunyaannya di media sosial. Ketika semakin banyak khotbah yang menyerukan bahwa mereka yang berharta adalah mereka yang diberkati Tuhan, sehingga semakin banyak juga umat Tuhan yang bekerja keras semata-mata untuk sebuah pengakuan bahwa mereka diberkati Tuhan. Dimanakah nilai sebuah kesederhanaan?

Kitab Hosea pasal empat belas ayatnya yang keempat serta Injil Markus pasal delapan ayatnya yang ketiga puluh enam mengingatkan saya dengan satu kata-kata bijak yang mengatakan, “Seorang dengan perut yang lapar, dompet yang kosong, dan sedang patah hati dapat mengajarkan pembelajaran kehidupan yang terbaik”. Katakata bijak tersebut tentu berseberangan dengan pemahaman masyakarat umum yang mengatakan, “Seorang yang berharta dapat mengatakan segalanya”.

Kesederhanaan adalah kekayaan. Lebih baik bernyanyi di kamar mandi, dari pada menangis di istana. Renungan kita pada hari ini mengajak kita kembali melihat bahwa keindahan hidup tidaklah hanya bersumber dari apa yang kita lihat, tetapi lebih berasal pada ketentraman hati. Mensyukuri apa yang ada tentu menjadi langkah yang baik, namun jangan sampai kita lupa mensyukuri apa yang tidak ada: tidak ada sakit, tidak ada berita buruk, tidak ada telepon yang menagih hutang, tidak ada gelisah yang diakibatkan menumpuknya kebohongan demi memperlihatkan diri dapat hidup serba “wah”. Mari memohon pertolongan Roh Kudus, agar kuasaNya menuntun kita menghayati nilainilai hidup sebuah kesederhanaan, dan kiranya nyanyian Kidung Jemaat empat ratus lima memperkuat langkah kaki kita untuk melanjutkan hidup dengan tetap sederhana, bahkan meringankan tangan kita untuk terus memulai berbagi pada sesama. (YDS)

Bacaan Alkitab: Matius 17: 1-9; 2 Korintus 4: 6-10; Keluaran 3: 1-8a (8b.9) 10 (11-12) 13-14 (15); Mazmur 97

Doa: Ya Tuhan, Sang Sumber Berkat, ajarlah kami untuk mensyukuri semua berkat yang Engkau limpahkan bagi kami. Mampukanlah kami untuk memaknai kehidupan ini dalam kesederhanaan. Amin.