Kapan Harus Berbuat Baik? (20 Nov 2021)

Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya. Amsal 3: 27
20 November 2021

Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya. Amsal 3: 27

Janganlah jemu-jemu berbuat apa yang baik. 2 Tesalonika 3: 13

Seorang Ibu yang kaya raya memberikan dukungan dana kepada seorang siswi perempuan untuk dana sekolahnya. Seorang pemuda pintar juga banyak membantu siswi tersebut dalam belajar. Seorang guru les private juga dengan tidak jemu-jemu mengajar siswi tersebut. Sebaliknya ada seorang siswa yang juga tidak mampu sekolah, tidak terlalu pandai dan tidak ada yang menolong. Alasannya karena baik ibu, pemuda dan guru private itu punya dasarnya sendiri untuk menolong siswi perempuan tersebut. Ibu yang kaya raya menolong siswi itu karena ia berasal dari ras yang sama dengan dia. Pemuda itu membantu siswi itu belajar sebab ia menaruh hati padanya. Guru les mengajarkan tidak jemu-jemu karena memang itu tugas dan pekerjaannya. Menarik melihat bahwa ada dua fenomena yang serupa namun yang satu mendapat pertolongan dan yang lain tidak.

Amsal 3 dituliskan Salomo kepada generasi muda pada masanya, yang ia anggap seperti anaknya sendiri. Salomo mengingatkan bahwa janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal kita mampu melakukannya. Ada begitu banyak hal-hal yang mungkin membuat seseorang menahan kebaikan kepada orang lain. Cerita diatas merupakan suatu contoh, bahwa kecenderungan manusia untuk berbuat baik didasari oleh berbagai kepentingan diri sendiri. Pada konteks di Tesalonika, Paulus mengingatkan untuk menegur orang-orang yang tidak bekerja karena sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna (2 Tes 3:11).Paulus mengingatkan untuk menegur orang tersebut sebagai suatu niat baik dan bukan jahat, dan jangan jemu-jemu untuk melalukan kebaikan.

Kristus telah lebih dahulu memecah berbagai belenggu-belenggu budaya manusia. Ia memberikan kebaikan-Nya bukan berdasarkan suku, umur, gender, atau karena seorang baik dan banyak hal lainnya. Ia tidak menahan kebaikan-Nya dan bahkan Ia mau mati dan berkorban untuk menyelamatkan orang-orang yang menyalibkan Dia, yang berteriak-teriak salibkan Dia (Kis 2: 22 dan 23, 37-39). Kiranya Allah memampukan kita untuk dapat memiliki kerinduan menolong sesama dan tidak menahan-nahan diri. (FAO)

Bacaan Alkitab: Wahyu 20: 11–15; 1 Tesalonika 4: 13–18

Doa: Tuhan, bimbing kami agar kami mau menolong sesama kami agar dunia mengenal kasih-Mu di dalam kami. Amin.