Dasar Iman Orang Percaya (8 Maret 2022)

Tidak ada gunung batu seperti Allah kita. 1 Samuel 2: 2
8 March 2022

Tidak ada gunung batu seperti Allah kita. 1 Samuel 2: 2

Tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus. 1 Korintus 3: 11

Kokohnya sebuah bangunan sangat tergantung pada dasar dan fondasinya. Apabila fondasi yang dibuat kuat maka kokohlah bangunan itu. Sebaliknya jika fondasi yang dibuat asalasalan, maka bangunan pun tidak akan kokoh. Demikian pula kehidupan iman. Atas dasar apakah kehidupan iman orang percaya dibangun? Jika dasar kehidupannya ialah “Yang Kekal” maka kokohlah bangunan imannya, tetapi jika berpegang pada “yang fana” pasti tidak akan tahan uji. Ibarat emas dan sekam, emas jika dipanaskan akan semakin murni sedangkan sekam jika terbakar akan hangus dan habis dalam sekejap.

Paulus menulis surat kepada jemaat Korintus yang pada saat itu belum dewasa secara rohani, sehingga beratnya tantangan oleh karena golongan di jemaat mengancam perpecahan. Golongan Paulus, Kefas, Apolos dan Kristus masing-masing menonjolkan dirinya. Sehingga Paulus melalui suratnya menegor jemaat agar membangun hubungan mereka dengan kasih. Kehidupan iman jemaat bukan berdasarkan kepada apa yang mereka miliki, keadaan mereka atau sesuatu yang ada didalam dunia ini, melainkan harus didasarkan kepada Yesus Kristus, Anak Allah yang Hidup sebagai dasar iman orang percaya. Yesus Kristus adalah dasar dan fondasi kehidupan, setiap orang hanya “alat” yang selanjutkan akan membangun di atas dasar Kristus.

Kita juga dapat sungguh dikuatkan melalui kesaksian kehidupan seorang Hana, karena Tuhan menutup rahimnya. Dalam masyarakat Yahudi, melahirkan anak laki-laki bagi suaminya adalah tugas dan kewajiban bagi seorang wanita yang sudah menikah. Jika wanita itu mandul alias tidak bisa memberikan keturunan, maka hal ini akan menimbulkan rasa malu dan menjadi celaan bagi suaminya, keluarganya dan juga lingkungan di sekitarnya. Di tengah-tengah situasi yang amat berat itu, Hana telah dewasa secara rohani. Ia sadar bahwa satu-satunya Pribadi yang dapat menolongnya adalah Tuhan. Hana mencurahkan segala beban hidupnya. Mendengar doa pengharapan Hana, Tuhan pun mengabulkan doa Hana, “… setahun kemudian mengandunglah Hana dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ia menamai anak itu Samuel,…” (1 Samuel 1:20).

Tantangan kehidupan yang kita alami adalah suatu proses kita melihat kuasa Tuhan. Hadapi dan berpengharapan pada janji Tuhan saja. Kita tidak akan dipermalukan dunia, jika Tuhan dipihak kita. Jika Ia menguji kita, kita akan timbul seperti emas. (GAKLIE)

Bacaan Alkitab: Ayub 1: 1-22; Yohanes 12: 1-11

Doa: Kami percaya padaMu yang tak pernah gagal menepati janji dan rancangan yang terbaik dalam hidup kami. Meski berat tantangan dan persoalan hidup kami, Tuhan selalu beri berkat dan kami kuat. Amin